Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 08 Februari 2013

LEO KRISTI – (1976) Nyanyian Malam - Konser Rakyat


Prediksi sementara album ini saya perkirakan tahun 1978. Namun setelah cari rujukan ke situs lain (Wikipedia bebas berbahasa Indonesia) , saya mendapati bahwa album ini adalah lebih tua di 1976.
Side  : A __________
01.     Nyanyian Malam
02.     Jerami
03.     Laut Lepas Kita Pergi
04.     Nyanyian Pantai
06.     DiAtas Sukapura II
07.     Kereta Laju
Side  : B __________
03.     Memorial Sudirman
05.     Hati Muda Ley Ley
06.     Surabaya
07.     Roda Pedati
LEO KRISTI
Dari : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Leo Imam Sukarno atau lebih dikenal dengan nama Leo Kristi (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 8 Agustus 1949; umur 63 tahun) adalah musisi pengelana yang amat menikmati karier musiknya di jalanan. Rekan-rekannya (sudah almarhum) seperti Gombloh atau Franky Sahilatua memilih untuk “mendarat” di satu tempat, meski secara karya, rekan - rekannya itu tetap bersuara lantang tentang alam, cinta atau sosial. Ikut mendirikan satu grup musik beraliran rock progresif bernama Lemon Trees bersama Gombloh dan Franky, Leo Kristi merasa menemukan “pengembaraan” musikalnya lewat perjalanan panjang menjelajah Nusantara. Setelah memisahkan diri dari Lemon Tree's, Leo Kristi lebih suka tampil dalam konser terbuka.
Balada adalah ciri khas dari hampir seluruh musik yang diciptakannya.
Pendidikan
Leo memasuki dunia Sekolah Dasar pada tahun 1961 di SD Kristen Surabaya. Setelah itu ia memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun 1964. Pada masa ini Leo juga masuk ke Kursus Memasak. Sekolah dilanjutkan di SMA Negeri 1 Surabaya pada tahun 1967. Ia sempat berkuliah di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya pada tahun 1971. Ia tidak menyelesaikan kuliahnya, namun di sinilah ia bertemu Gombloh dan mengawali karier sebagai koki keliling (trubadur).
Musik adalah dunia yang dikenalnya sejak kecil. Leo kecil menyimak setiap irama yang dimainkan tiap subuh oleh ayahnya, Raden Ngabei Iman Soebiantoro, seorang pensiunan pegawai negeri yang juga merupakan seorang musisi. Sejak kecil, Leo Kristi aktif dalam kegiatan menyanyi di gereja, bagian dari kegiatan sekolah dasarnya, meskipun ia sendiri muslim. Leo waktu itu sekolah di SD Kristen, Surabaya pada tahun 1961. Ia berkata bahwa musik baginya sahabat, menyambut nyanyian sebagai kecintaan.
Di SMP pula ia mendapat sebuah kondom dari ayahnya. Lalu, ia masuk kursus Tino Kerdijk, Direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya. Untuk menyanyi ia belajar pada Nuri Hidayat dan John Topan. Ia juga pernah kursus gitar pada Poei Sing Gwan dan Oei Siok Gwan. Dua orang gitaris yang diakuinya cukup memberi pengaruh musik. Di SMAN 1 Surabaya, ia tidak lepas dari kewajiban berbaris dan ikut menyanyikan lagu-lagu perjuangan di bawah Tugu Pahlawan. Ia juga bergabung dalam band sekolah beraliran rock n' roll bernama "Batara" yang beranggotakan teman-temannya dari SMA: Ratno, Karim, Soen Ing, Andre Muntu, dan Harry Darsono (kini menjadi desainer nasional). Mereka kerap kali mereka menyanyikan lagu-lagu milik Katie Perry dan namanya cukup terkenal untuk sebuah band lokal Surabaya.
Di kalangan wartawan, Leo adalah sosok yang sulit dicari, namun bisa tiba-tiba muncul dan menggelar konser. Sebelum dikenal sebagai musisi, pria yang logat jawa timurannya masih sangat kental ini pernah menjadi penjual buku Stensilan American Books dan karyawan pabrik cat Texmura. Leo juga pernah menjadi penyanyi di restoran "China Oriental" dan "Chez Rose" (1974-1975) dan menyanyi di LIA dan Goethe Institut Surabaya.
Minggu lalu harian kompas memuat komunitas penggemar leo kristi. Satu halaman penuh. Rupanya musisi dan penyanyi asal surabaya ini punya penggemar setia yang masih terus mengikuti perjalanan bermusik cak leo.
Tapi benarkah leo kristi sebegitu terkenalnya saat ini? Saya hanya bisa ngelus dada. Tahun lalu leo mendapat penghargaan dari bu risma, wali kota surabaya, bersama puluhan warga surabaya lain yang dinilai berprestasi.
Memakai kaos hitam ketat, topi, leo berbaur dengan ratusan orang di taman surya. Tapi siapa yang kenal leo, bersalaman, foto bersama? Saya perhatikan sangat sedikit. Tak sampai lima orang.
Ah, nasib seniman tua yang makin dilupakan.
Beberapa minggu kemudian saya tak sengaja melihat leo kristi di jalan ngagel jaya surabaya. Sehabis mengurus tiket kemudian berteduh karena hujan deras. Benarkah pria berkaos hitam itu leo kristi? Apakah saya tidak salah lihat?
Saya pun menghampiri dan ternyata benar: leo kristi. Kami ngobrol santai sembari menunggu hujan reda. Tak ada seorang pun yang waktu itu menyalami leo. Apalagi minta tanda tangan layaknya bertemu seniman besar.
Tak hanya leo kristi. Begitu banyak seniman2 kita yang tak lagi direken masyarakat setelah masa emasnya berlalu. Mereka pun ibarat rakyat biasa, orang kampung yang tak pernah jadi public figure.
Saya tidak tahu seniman2 lama macam leo kristi ini mengalami post power syndrome atau tidak. Bayangkan, selama bertahun-tahun mereka dielukan ribuan orang, jadi berita di media, kemudian kini tak dihiraukan orang.
Syukurlah, leo kristi ternyata masih punya penggemar setia di kota2 lain. Di surabaya sendiri masyarakat mungkin sudah lupa permainan gitar yang rancak dan teriakan2 khas leo kristi. (04 Maret 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Rekomendasi ndownload / Tips Mengunduh

Mekanis ngunduh:

01. Pilih / klik judul lagu / link unduhan.

02. Agar tidak bolak-balik meninggalkan halaman blog ini, usahakan klik kanan => pilihlah New Tab / Tab Baru.

03. Pada New Tab “www.ADF.ly ” dengan mengklik kanan atas ada “SKIP” atau “LEWATI” yang harus menunggu 5 detik, sabar ..... ! anda akan dibawa ke halaman unduhan tempat file blog ini disimpan misalnya “mediaFire “, “4shared “, ”dropbox “ atau lainnya.

=> Semoga sukses.

BLANK

X